RSS

KEHIDUPAN DI BUMI DARI ALGA RUANG ANGKASA

16 Mar
Gambar menunjukkan mikrofosil.
Dinyatakan, kehidupan di Bumi berasal dari
alga luar angkasa yang dikirim oleh meteorit.
Photo: ArXiV

Bahasan mengenai asal
muasal kehidupan di Bumi
selalu menarik perhatian.
Beberapa ilmuwan meyakini
kebenaran hipotesis
“cometary panspermia” yang
menyatakan bahwa
kehidupan yang ada di Bumi
berasal dari luar angkasa dan
komet membawanya ke Bumi.
Baru-baru ini, tim peneliti dari
Cardiff University yang
dipimpin oleh Jamie Wallis
menunjukkan bukti yang
mendukung hipotesis
tersebut dalam artikel yang
dipublikasikan di Journal of
Cosmology.
Dalam artikelnya, Wallis dan
koleganya menampilkan foto
hasil citra mikroskop elektron
dari fosil alga yang melekat
pada sampel pecahan
meteorit. Meteorit yang
dimaksud adalah meteorit
yang jatuh di Polonnaruwa, Sri
Lanka, pada 29 Desember
2012 lalu.
Wallis memperoleh sampel
meteorit dari peneliti Sri
Lankan Medical Research
Institute di Kolombo.
Sebanyak 628 pecahan batu
meteorit diberikan oleh
peneliti Sri Lanka tersebut.
Wallis dan timnya yang
melakukan identifikasi
sampel-sampel tersebut.
Mereka menemukan ada tiga
sampel yang tergolong
carbonaceous chondrite.
Mereka mengonfirmasi bahwa
batuan yang dimaksud
memang berasal dari pecahan
meteorit.
Merujuk pada hasil foto
elektron fosil alga yang
ditemukan, Wallis
menegaskan bahwa flagella
tipis yang dimiliki oleh fosil
alga itu merupakan bukti
bahwa mikroorganisme yang
melekat di meteorit tersebut
telah berevolusi dengan
lingkungan yang memiliki
gaya gravitasi dan tekanan
rendah.
Tim peneliti yang dipimpin
Wallis meyakini, keberadaan
fosil alga pada batu meteorit
itu merupakan bukti nyata
bahwa kehidupan yang ada di
Bumi berasal dari luar
angkasa.
Pernyataan Wallis dan timnya
tak pelak memunculkan
perdebatan di kalangan para
ilmuwan, sebagaimana
dilansir Physorg, Rabu
(12/3/2013). Ilmuwan yang
tidak setuju dengan
pernyataan Wallis mengatakan
bahwa mungkin saja sampel
yang dianalisis telah
terkontaminasi organisme
modern.
Namun, Wallis dan timnya
berkilah. Mereka beralasan,
posisi fosil yang terletak jauh
di dalam bagian matrik, dan
kandungan nitrogen pecahan
rendah. Mereka tetap
berpendapat bahwa fosil yang
ditemukan merupakan
organisme dari masa lampau.
Ada pula ilmuwan yang
berpendapat bahwa batuan
sampel itu terbentuk akibat
sambaran petir. Argumen ini
disanggah Wallis dan
rekannya yang mengatakan
bahwa tidak ada laporan
mengenai munculnya petir
pada saat kejadian. Menurut
mereka lagi, panas yang
dihasilkan petir akan
menghancurkan fosil tersebut.
Ilmuwan lain yang skeptis
juga menuturkan, sampel
yang dianalisis bisa saja
berasal dari Bumi. Karena ada
jatuhan asteroid, batuan yang
mengandung materi biologis
dan air itu terlempar ke luar
angkasa. Mungkin saja, batu
itu kembali lagi.
Fakta yang mengejutkan dari
kajian Wallis dan timnya
adalah, semua fosil yang
ditemukan di sampel yang
dianalisis seluruhnya adalah
jenis mikroorganisme
perairan tawar yang hidup di
Bumi.
Oleh karenanya, bila pendapat
Wallis benar bahwa fosil
tersebut berasal dari luar
angkasa, maka secara tidak
langsung berarti fosil-fosil itu
punya sejarah evolusi yang
sama dengan saudaranya
yang hidup di Bumi. Ini
mengejutkan mengingat
lingkungan luar angkasa jauh
berbeda dengan Bumi.
 
Leave a comment

Posted by on 16 March 2013 in KISAH TAULADAN

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • MENU

  • Meta

  •  
    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 321 other followers